
PRESMEDIA.ID – Impian 27 anggota Tim Paduan Suara Wanita (PSW) Kota Tanjungpinang untuk tampil di Pesparawi Nasional XIV di Manokwari, Papua Barat, kandas di Bandara Soekarno-Hatta.
Setelah dua tahun berlatih, mereka harus pulang dengan tangan hampa karena tiket yang dipegang ternyata hanya berstatus “booking code” dan belum dibayarkan.
Ria Ukur Tondang, Ketua LPPD Kota Tanjungpinang, mengenang bagaimana rombongan yang mayoritas terdiri dari ibu-ibu dan lansia itu berangkat pada 25 Juni 2026 dengan penuh harapan.
“Kami sudah melewati seleksi ketat. Ini pertama kali kontingen Tanjungpinang mewakili provinsi di tingkat nasional,” ujar Ria dalam pesan WhatsApp kepada media, Sabtu (28/6/2026).
Namun, setibanya di Jakarta, kepastian itu tidak ada. Tiket yang seharusnya membawa mereka terbang ke Manokwari tidak terdaftar di sistem maskapai. Alih-alih diterbangkan, rombongan ini justru terlunta-lunta di area keberangkatan tanpa pendampingan yang memadai.
Ria merinci kronologi penelantaran tersebut: “Dalam kondisi berkeringat, kami disuruh pindah dari Terminal 1C ke Terminal 1B. Beberapa jam kemudian, kami harus bergeser lagi ke Terminal 2, dan akhirnya terdampar di Terminal 3.”
Bayangkan kondisi 27 peserta yang sebagian besar adalah lansia. Mereka harus menyeret koper berat mereka sendiri berpindah-pindah terminal.
Beberapa di antara mereka yang sudah sepuh bahkan hampir pingsan karena kelelahan dan dehidrasi. Tidak ada konsumsi yang memadai, dan tidak ada satu pun “official” yang membantu memindahkan barang. “Ternyata tiket kami kondisinya hanya status “booking” dan tidak di-“issue”,” tulis Ria dalam kronologi yang ia bagikan.
Luka mereka semakin dalam saat menyadari adanya perlakuan yang janggal. Saat mereka akhirnya menyerah dan meminta tiket untuk pulang kembali ke Tanjungpinang, prosesnya berjalan sangat mulus.
“Lucunya begini, kami minta tiket pulang ke Tanjungpinang, tanpa menunggu lama tiket langsung diberikan… tanpa negosiasi,” tulis salah satu peserta di kolom komentar media sosial.
Ironisnya, tiket keberangkatan ke Manokwari dijanjikan berulang kali namun tidak pernah terbit, sementara tiket kepulangan dicetak dengan mudah. “Perlakuan diskriminatif ini meninggalkan luka mendalam bagi para seniman daerah yang hanya ingin berbakti lewat seni suara,” tegas Ria.
Kekecewaan ini memuncak pada 25 Juni, ketika pihak travel kembali memberikan kepastian palsu. “Sekali lagi saya meminta agar pernyataan ini ditulis sehingga pembatalan bisa saya teruskan ke peserta.
Ternyata berselang 15 menit kami menerima tiket yang sudah di-“issued” penerbangan Batam-JKT dan pihak travel menyatakan akan mengirimkan tiket lanjutan,” papar Ria. Namun, tiket lanjutan ke Manokwari itu tidak pernah datang.
Di tengah keputusasaan di Terminal 3, momen yang tak terlupakan terjadi. Menyadari kesempatan tampil di Manokwari sudah hilang, 27 ibu-ibu itu spontan berdiri dan bernyanyi.
Mereka melantunkan lagu-lagu pujian yang seharusnya mereka bawakan di tanah Papua. Suara mereka bergema di tengah hiruk-pikuk bandara, menjadi satu-satunya cara untuk menyuarakan kekecewaan yang tak lagi bisa ditampung oleh kata-kata.
“Semua peserta menangis, marah, kecewa, bahkan emosional. Saya sebagai ketua tidak bisa mengendalikan semuanya,” aku Ria dengan nada pilu.
Aksi spontan yang terekam video dan viral itu menyita perhatian publik. Netizen berduka melihat para lansia yang seharusnya dihormati, justru terlantar di bandara. “Dua tahun bukan waktu yang singkat. Waktu, materi, dan tenaga yang telah dikorbankan selama dua tahun pelatihan akhirnya terbuang sia-sia karena kelalaian orang lain,” curhat salah satu peserta mewakili perasaan 26 ibu-ibu lainnya.
Kini, pada 26 Juni 2026, rombongan telah kembali ke Tanjungpinang. Mereka pulang membawa trauma dan kelelahan fisik, bukan medali kebanggaan.
“Kami hanya ingin bernyanyi memuji Tuhan. Tuhan pasti akan menguatkan kami. Tuhan pakai PSW Tanjungpinang untuk membuka mata setiap pemimpin agar jangan sesekali melakukan ketidakadilan,” tutup Ria.
Bagian 1
Penulis:Tim Presmedia
Editor :Redaksi













