Tiket Pulang Instan: Apakah Bukti Kontingen PSW Kepri Ditumbalkan?

Nyanyian Pilu di Terminal 3, Ketika Mimpi Manokwari Rontok di Soetta

Peserta PSW Tanjungpinang beristirahat di salah satu rumah makan di kawasan bandara soekarno-hatta, jakarta, yang sudah berjam-jam menunggu kepastian keberangkatan ke monokwari. (dok lppd Tanjungpinang)
Peserta PSW Tanjungpinang beristirahat di salah satu rumah makan di kawasan bandara soekarno-hatta, jakarta, yang sudah berjam-jam menunggu kepastian keberangkatan ke monokwari. (dok lppd Tanjungpinang)

PRESMEDIA.ID – Di tengah hancurnya mimpi di Terminal 3 Soekarno-Hatta, ada kejanggalan yang menyayat hati 27 anggota PSW Tanjungpinang. Saat mereka menyerah dan meminta tiket pulang, tiket tersebut justru langsung diterbitkan sangat cepat tanpa negosiasi.

Kecepatan penerbitan tiket pulang ini seolah menjadi konfirmasi telak bahwa penerbangan ke Manokwari memang tidak pernah ada. Hal ini memicu kecurigaan bahwa para ibu dan lansia ini sengaja dikirim hanya untuk memperpanjang durasi sandiwara birokrasi.

Tiket Pulang Instan: Sandiwara Terbongkar

Selama berjam-jam, peserta dipaksa mengemis agar tiket ke Manokwari diterbitkan sambil diseret dari Terminal 1C, 1B, Terminal 2, hingga terdampar di Terminal 3. Namun anehnya, begitu meminta pulang, akses langsung terbuka lebar tanpa pertanyaan.

“Mereka tahu dari awal kami tidak akan terbang, lalu kenapa kami tetap dikirim ke bandara untuk berharap?” ratap seorang peserta getir.

Janji Palsu Ofisial dan Diam yang Membunuh

Dalam kronologi yang diungkap Ketua LPPD Tanjungpinang, Ria Ukur Tondang, panitia provinsi sempat memberikan janji manis tertulis. Kenyataannya, janji tiket lanjutan itu hanyalah umpan agar peserta bersedia terbang dari Batam ke Jakarta.

Yang paling menyakitkan dari tragedi ini adalah kebisuan massal para pejabat setelah kasus ini mencuat. Tidak ada satu pun dering telepon permintaan maaf, kunjungan empati, apalagi pembicaraan mengenai ganti rugi.

Membawa Pulang Koper Berisi Luka

Saat mendarat di Bandara Raja Haji Fisabilillah pada 26 Juni 2026, tidak ada lagi sorak-sorai pejabat daerah. Yang tersisa hanyalah tatapan cemas keluarga melihat pahlawan mereka pulang sebagai korban penipuan.

Kini, 27 rumah di Tanjungpinang diselimuti trauma mendalam akibat dinginnya perlakuan yang mereka terima. Bayangan koper berat dan ucapan petugas maskapai soal “kode booking tidak terdaftar” terus menghantui tidur mereka.

Hingga hari ini, 27 perempuan ini terus menagih keadilan dan kejelasan aliran dana mereka. Setiap hari yang berlalu tanpa jawaban adalah bukti bahwa mimpi ibadah mereka telah sengaja dijadikan tumbal.

Bagian 5

Penulis:Tim Presmedia
Editor :Redaksi

Tinggalkan Balasan