
PRESMEDIA.ID,Lingga- Masyarakat Lingga mengecam aksi brutal dan premanisme ketua Korwil Melayu Raya Lingga Zuhardi, yang menjebol dinding basecamp serta memaki-maki pekerja proyek irigasi di Bukit Baygon Desa Bukit Langkap.
Sejumlah warga dan LSM serta OKP mengatakan, aksi itu dinilai tidak menjunjung adab dan etika karena menunjukkan sikap premanisme.
Ketua LSM Melayu Kampung, Muhammad Idham mengatakan, sekalipun dalam koridornya HI Melayu Raya Korwil Lingga yang diketuai Zuhardi tersebut membela kepentingan penguna jalan, Namun pada kenyataannya, pembelaan tersebut tidak menunjukkan sikap baik pada pihak pekerja yang tengah beroperasi.
Menurutnya, seharusnya dengan kapasitas sebagai ketua, Zuhardi bisa berbicara secara baik, dan menunjukkan sikap intelektual, terkait apa yang menjadi perhatian mereka. Bukan dengan tindakan arogansi atau mengancam pihak kontraktor.
“Seharusnya dengan cara yang beradap, munculkan ketokohan itu. Sekarang siap yang tidak beradap, apalagi sampai menjebol dinding base camp perusahaan. Itukan aset negara yang tertuang dalam anggaran kontrak, dan bukti video-nya juga ada,”kata Idham.
Dia mengatakan, pengakuan dari pihak pekerja, anggota Melayu Raya juga melemparkan tanah ke dinding barak mereka. Yang meninjukan tidak adanya etika bertamu.
Sebagai seorang penggerak LSM, dia justru mendukung jika ada ormas atau OKP yang menyerukan kepentingan masyarakat yang membangun yang tidak ada kepentingan kelompok, bahkan yang beretika, dan bukan sebaliknya ada udang sebalik batu.
“Ada etikanya. Jika berlaku baik. Orang tidak tersinggung. Saya rasa apa yang menjadi keluhan pengguna jalan, pihak kontraktor juga tidak tinggal diam mereka juga sudah melakukan pembersihan,”kata dia.
Perwakilan Satker, SNVT Pelaksanaan Jaringan Pemanfaatan Air Sumatera IV, Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS) Kementrian PUPR, Syaiful yang berada di tempat proyek mengatakan, cukup menyayangkan perlakuan arogansi, orang yang mengatas namakan Melayu Raya itu, bahkan menakut-nakuti pekerja hingga membuat statement dipemberitaan pihak proyek tidak beradap.
Dia menyadari, secara teknis memang banyak kendala untuk membuang tanah. Namun apa yang dilakukan tersebut sudah dikoordinasikan baik dengan pemerintah kabupaten, maupun desa terkait.
“Saya kira kami bekerja sudah sesuai SOP, masalah apa yang terjadi itu, kami bersihkan setiap hari selesai bekerja. Itu kadang damkar dari pemerintah juga bantu. Kami sudah koordinasi dengan pemerintah,”jelasnya.
Kepala seksi (Kasi) Damkar Satpol PP Lingga Mulyadi juga mengatakan, dalam mensukseskan program irigasi sawah ini, pemerintah daerah siap membantu, Bahakan pemerintah telah menurunkan tim Damkar untuk membantu pihak perusahaan membersihkan lumpur dari jalan utama.
“Kami dari Damkar siap bantu, jika perusahaan butuh. Memang tanggungjawab kami untuk kenyamanan bersama,”ujar Mulyadi,
Kepala Desa Bukit Langkap, Sudarmin juga membenarkan, bahkan pihak desa meminta tidak seharusnya ada ketimpangan ditengah masyarakat terkait proyek ini. Sebab, berjalannya proyek irigasi ini sudah sekian lama ditunggu untuk mendukung program persawahan di desanya.
Secara teknis masalah disposal tanah yang berdampak pada pengguna jalan, sebelumnya sudah dikoordinasikan antara pihak kontraktor dan desa. Dan itu diindahkan kontraktor dengan cara membersihkan jalan usai lori-lori melakukan aktivitas pembuangan tanah.
“Adapun keluhan, baik itu organisasi mengenai dampak pengerjaan ini, saya harap secara pribadi dapat dikomunikasikan dengan baik. Sehingga ada solusi bersama dan berjalan kondusif. Ini agar kedepannya BWSS IV dapat melanjutkan kegiatan khusus di Kabupaten Lingga,”jelas Darmin.
Sementara OKP KNPI, mengaku berterimakasih kepada Satker yang sudah mau membangun irigasi dan lainnya di Kabupaten Lingga. Menurut Ketua KNPI Kabupaten Lingga, Safarudin pembangunan ini untuk kesekian kalinya lewat BWSS, dan kedepannya akan kembali dibangun irigasi di sawah Panggak Darat, dan Kerandin.
Untuk itu di aberharap, janganlah LSM Ormas maupun OKP yang tidak sejalan lagi dengan misi pemerintahan, Karena menurutnya, alokasi anggaran proyek tersebut tidak kecil dan harus sama-sama mengawasi dan menyukseskanya.
“Kalau kita ribut. Dia orang tak mau lagi, siapa lagi yang kita harapkan. Daerah tidak mungkin terbangun. Jadi marilah kita saling rangkul, saling mendukung. Kami, insyaallah dapat memastikan di Lingga kondusif,”ujar Safaruddin.
Penulis:Aulia/Redaksi
Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com












