
PRESMEDIA.ID – Pesawat yang membawa mereka pulang bukan membawa kemenangan. Bukan membawa piala. Bukan membawa kebanggaan. Pesawat itu hanya membawa 27 jiwa yang hancur, 27 hati yang remuk, dan 27 mimpi yang mati sebelum sempat lahir.
Kepulangan yang Tak Seorang Pun Menantikan
Tanggal 26 Juni 2026. Pukul 14.00 WIB. Pesawat mendarat di Bandara Raja Haji Fisabilillah, Tanjungpinang.
Di ruang kedatangan, beberapa keluarga sudah menunggu. Mereka membawa bunga. Mereka membawa spanduk bertuliskan “Selamat Datang Pahlawan Kami”.
Mereka tidak tahu bahwa pahlawan yang mereka nantikan pulang dengan tangan kosong, dengan mata bengkak, dan dengan jiwa yang terluka.
Ria Ukur Tondang turun lebih dulu dari pesawat. Wajahnya pucat. Matanya merah. Ia melihat keluarga yang tersenyum, dan hatinya hancur.
Bagaimana ia harus mengatakan bahwa anak, istri, atau ibu mereka pulang bukan sebagai pemenang, tapi sebagai korban?
“Kami tidak siap menghadapi mereka,” bisik Ria. “Kami tidak siap melihat kekecewaan di mata keluarga yang sudah menunggu dengan penuh harap.”
Salah satu peserta, ibu berusia 62 tahun yang sudah berlatih selama dua tahun, menolak turun dari pesawat selama 20 menit. Ia duduk di kursinya, memeluk tas berisi kostum yang tidak pernah ia pakai di panggung nasional, dan menangis tanpa suara.
“Mama tidak mau keluar. Mama malu. Mama sudah janji sama almarhum papa mau nyanyi di Manokwari. Mama gagal, Nak. Mama gagal,” isaknya kepada pramugari yang mencoba menenangkannya.
Pelukan yang Penuh Air Mata
Di ruang kedatangan, adegan demi adegan pilu terjadi. Seorang putri yang menjemput ibunya langsung memeluk erat ketika melihat wajah sang ibu yang bengkak.
“Ibu kenapa? Ibu sakit?” tanya sang putri dengan cemas.
“Ibu tidak sakit, Nak. Tapi hati ibu hancur. Ibu tidak jadi nyanyi di Manokwari. Tiket ibu palsu, Nak. Semua bohong.”
Sang putri terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya memeluk ibunya lebih erat, sambil ikut menangis tanpa mengerti sepenuhnya mengapa mimpi ibunya harus berakhir seperti ini.
Di sudut lain, seorang suami memeluk istrinya yang gemetar. Sang istri, yang biasanya ceria dan penuh semangat, kini hanya bisa diam. Matanya kosong. Ia seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga.
“Kita pulang, Yah. Kita pulang dengan tangan kosong. Dua tahun latihan, semuanya sia-sia,” ucapnya lirih.
Sang suami hanya bisa mengelus punggung istrinya. “Tidak apa-apa, Ma. Yang penting Mama pulang dengan selamat. Kita masih punya Tuhan.”
Malam Pertama yang Tak Tertidur
Malam itu, 27 rumah di Tanjungpinang tidak tenang. 27 peserta PSW tidak bisa tidur. Mereka berbaring di tempat tidur mereka, menatap langit-langit kamar, dan memikirkan apa yang terjadi.
Mereka memikirkan Terminal 1C, 1B, Terminal 2, dan Terminal 3. Mereka memikirkan koper berat yang harus mereka seret sendiri. Mereka memikirkan petugas maskapai yang berkata “kode booking tidak terdaftar”. Mereka memikirkan janji-janji yang tidak pernah tepati.
Salah seorang peserta, ibu berusia 58 tahun, menulis di buku hariannya:
“27 Juni 2026. Hari ini aku gagal. Bukan karena suaraku jelek. Bukan karena aku tidak siap. Tapi karena orang-orang yang seharusnya melindungiku, justru mengkhianatiku. Aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku menutup mata, aku melihat Terminal 3.
Aku mendengar suara pengumuman yang tidak pernah memanggil namaku untuk naik ke pesawat menuju Manokwari. Aku mendengar nyanyian kami yang bergema di terminal, menjadi satu-satunya penampilan kami yang tidak pernah dipersiapkan untuk didengar siapa pun.”
Rasa Malu yang Menggerogoti
Yang paling menyakitkan bukan kegagalan itu sendiri. Yang paling menyakitkan adalah rasa malu.
Mereka adalah ibu-ibu yang dihormati di komunitas mereka. Mereka adalah penyanyi gereja yang aktif. Mereka adalah wanita yang selalu tampil percaya diri. Tapi kini, mereka merasa dipermalukan.
“Kami bukan pengemis. Kami bukan orang yang tidak punya harga diri. Kami hanya ingin bernyanyi memuji Tuhan. Tapi kenapa kami diperlakukan seperti ini?” tanya seorang peserta dengan suara bergetar.
“Orang-orang melihat kami di media sosial. Orang-orang melihat kami bernyanyi di terminal. Orang-orang tahu kami gagal. Bagaimana kami bisa tampil di gereja lagi? Bagaimana kami bisa menyanyi lagi tanpa merasa malu?”
Rasa malu itu semakin dalam ketika mereka melihat komentar-komentar di media sosial. Meskipun banyak yang bersimpati, ada juga yang mencibir.
“Harusnya tahu diri, sudah tua masih mau lomba-lombaan.” “Mungkin memang tidak berbakat, makanya tidak jadi berangkat.” “Uang negara habis untuk orang yang tidak bisa apa-apa.”
Komentar-komentar itu seperti pisau yang menusuk hati. Mereka tidak tahu bahwa di balik komentar itu, ada 27 wanita yang sudah memberikan seluruh hidup mereka untuk seni suara.
Ada 27 wanita yang sudah berlatih selama dua tahun, meninggalkan keluarga, meninggalkan pekerjaan, meninggalkan kesehatan, demi satu mimpi: memuji Tuhan di panggung nasional.
Dampak Fisik yang Nyata
Trauma itu bukan hanya di hati. Trauma itu juga di tubuh.
Beberapa peserta mengalami tekanan darah tinggi setelah kejadian. Seorang peserta yang berusia 67 tahun harus dirawat di rumah sakit karena kelelahan ekstrem dan dehidrasi yang tidak tertangani selama di bandara.
“Dia masuk rumah sakit dua hari setelah pulang. Tekanan darahnya 180/110. Dokter bilang dia mengalami stres berat,” ujar Ria saat menjenguknya.
Peserta lain mengalami insomnia kronis. Setiap kali ia mencoba tidur, ia bermimpi tentang bandara. Ia bermimpi tentang koper berat yang harus diseret. Ia bermimpi tentang petugas yang berkata “tidak terdaftar”. Ia terbangun dalam keringat dingin, dan tidak bisa tidur lagi sampai pagi.
Ada juga yang kehilangan nafsu makan. Selama seminggu setelah kepulangan, ia hanya bisa makan dua sendok nasi. Ia kehilangan 5 kilogram berat badannya.
“Melihat makanan saja saya mual. Saya ingat makanan di bandara yang tidak pernah kami dapatkan. Saya ingat rasa lapar yang kami tahan berjam-jam. Tubuh saya menolak makanan,” ucapnya dengan suara lemah.
Viral yang Membawa Luka Ganda
Video nyanyian spontan mereka di Terminal 3 viral. Jutaan orang menonton. Ribuan orang berkomentar.
Meskipun banyak yang bersimpati, viralitas itu juga membawa luka ganda. Mereka yang seharusnya.private, kini menjadi tontonan publik. Wajah mereka yang menangis tersebar di media sosial. Suara mereka yang bergetar saat bernyanyi menjadi bahan perbincangan.
“Kami tidak ingin viral seperti ini. Kami ingin viral karena kami menang di Pesparawi. Kami ingin viral karena kami mengharumkan nama daerah. Tapi kami viral karena kami terlantar. Kami viral karena kami gagal. Itu menyakitkan,” ujar seorang peserta.
Namun, di tengah rasa sakit itu, ada juga dukungan yang mengalir deras. Komunitas paduan suara dari seluruh Indonesia mengirim pesan solidaritas.
“Kami dari komunitas paduan suara Surabaya mengucapkan solidaritas untuk PSW Tanjungpinang. Mimpi kalian tidak mati di Soetta. Teruslah bernyanyi, karena suara kalian akan selalu didengar Tuhan.”
“Sebagai sesama penyanyi, saya bisa bayangkan betapa hancurnya hati kalian. Dua tahun latihan, kostum sudah disiapkan, mental sudah dibangun, tapi dihancurkan oleh tiket bodong. Kalian tidak sendirian. Kami bersama kalian.”
Pesan-pesan itu seperti balsum yang sedikit meredakan luka. Mereka tahu bahwa mereka tidak sendirian. Mereka tahu bahwa ada orang-orang yang peduli.
Pertanyaan yang Menghantui
Di tengah semua rasa sakit itu, satu pertanyaan terus menghantui pikiran mereka:
“Kemana uang kami?”
Mereka tahu bahwa ada dana yang dialokasikan untuk mereka. Mereka tahu bahwa ada anggaran dari APBD. Mereka tahu bahwa ada dana hibah yang seharusnya digunakan untuk membeli tiket mereka.
Tapi kenapa tiket mereka hanya booking code? Kemana uang itu pergi? Siapa yang mengambilnya?
“Kami tidak minta banyak. Kami hanya ingin tahu kemana uang yang seharusnya untuk kami pergi. Apakah uang itu digunakan untuk membeli tiket? Jika tidak, kemana uang itu?” tanya Ria dengan nada tegas.
Pertanyaan itu belum terjawab. Hingga hari ini, tidak ada satu pun pejabat yang bersedia memberikan penjelasan. Tidak ada satu pun pihak yang bersedia bertanggung jawab.
Mereka hanya bisa menunggu. Mereka hanya bisa berharap. Mereka hanya bisa berdoa agar keadilan suatu hari nanti datang, meskipun mereka tahu bahwa mimpi mereka tidak akan pernah kembali.
Bagian 3
Penulis:Tim Presmedia
Editor :Redaksi
Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com












