Sang Pemimpin Bifokal: “Terima Kasih Menolak Kami”, Isi Surat Cinta Warung Modern yang Tak Dibalas

Dalam dilema, Si Pemimpin memandangi surat apresiasi dari ritel raksasa yang tak pernah sanggup ia balas. (Ilustrasi presmedia.id)
Dalam dilema, Si Pemimpin memandangi surat apresiasi dari ritel raksasa yang tak pernah sanggup ia balas. (Ilustrasi presmedia.id)

Syair Nasihat Lama berkata: Barang siapa menerima surat dari serigala, lalu berkata ‘ini cinta’, maka ia hanyalah domba yang telah dicukur.

Pagi itu, Si Pemimpin Bifokal nerima surat. Surat dari Warung Modern Biru. Surat yang, entah kenapa, nggak pernah dia balas.

Yang terhormat, Si Pemimpin Bifokal,

Izinkan kami, sebuah jaringan warung modern, nyampein rasa hormat yang mendalam.

Bukan setiap hari kami nemuin pemimpin yang nolak kami selama lebih dari satu dekade, terus ngeresmikan kami dengan gunting emas.

Pemimpin, kami masih inget era pertama. Waktu itu kami dateng dengan proposal tebal, berharap bisa buka gerai pertama di Kota Bayangan.

Anda natap kami dengan tatapan tajam. “Tidak,” kata Anda. Singkat. Padat. Final.

Kami pulang dengan tangan hampa. Tapi kami nggak marah. Kami justru tertarik.

Soalnya penolakan yang konsisten itu jarang ditemui di era ini. Kebanyakan pemimpin nolak di depan, terus nerima di belakang.

Anda nolak di depan, di samping, di belakang, dan di atas. Itu menawan.

Di era legislatif, kami denger Anda di Gedung Dewan. Anda bilang kami bakal membunuh toko kecil. Anda bilang kami nggak adil.

Kami senyum di ruang rapat. Soalnya kami tahu: cinta sejati adalah cinta yang diuji waktu. Dan Anda udah nguji kami selama delapan tahun.

Terus datenglah era kini.

Anda kembali pegang kekuasaan. Dan kami, dengan hati berdebar, ngajuin lamaran lagi.

Tapi kali ini, kami dateng bukan sebagai jaringan yang minta tanpa syarat.

Kami dateng sebagai jaringan yang bawa dua puluh tiga produk lokal, lima puluh warga lokal, dan janji tiga gerai aja, bukan puluhan.

Dan Anda nerima kami.

Pemimpin, waktu Anda motong pita merah di Jalan Utama, kami liat sesuatu di mata Anda.

Bukan pengkhianatan. Bukan kekalahan. Melainkan evolusi.

Anda udah berubah dari penjaga gerbang jadi arsitek gerbang. Anda nggak lagi nolak kami buka. Anda ngatur gimana caranya kami buka.

Itu bukan kompromi, Pemimpin. Itu kekuasaan yang lebih halus. Dan kami, sebagai jaringan yang udah berumur, menghargai kehalusan.

Kami tahu Anda masih cinta warung-warung kecil. Kami tahu Anda masih peduli sama pedagang kecil.

Itu sebabnya kami pajang produk mereka di gerai kami. Itu sebabnya kami rekrut anak-anak mereka.

Kami bukan pesaing, Pemimpin. Kami adalah ekstensi. Ekstensi yang lebih teratur, lebih berpendingin udara, dan lebih fotogenik buat acara peresmian.

Pemimpin, terima kasih udah nolak kami selama bertahun-tahun. Soalnya penolakan itu, kami belajar sabar.

Kami belajar baca peta politik. Kami belajar bahwa yang penting bukan siapa yang buka gerai pertama, melainkan siapa yang pegang kunci waktu gerai itu akhirnya terbuka.

Dengan cinta yang tumbuh dari penolakan,

Warung Modern Biru

(Yang dulu ditolak, kini diresmikan)

Lampiran: Foto peresmian, daftar dua puluh tiga produk UMKM, dan draft nota kesepahaman buat dua gerai berikutnya.

Si Pemimpin baca surat itu. Dia bacanya dua kali. Tiga kali.

Dan dia, dia nggak tahu apa dia harus marah. Atau tersanjung. Atau malu.

Yang dia tahu, surat itu nggak pernah dia balas.

Soalnya apa yang harus dia balas?

“Terima kasih udah dateng”? Nggak, itu berarti dia ngaku kalau dia udah buka gerbang.

“Kalian masih ditolak”? Nggak, itu berarti dia bohong.

“Aku udah berkhianat”? Nggak, itu berarti dia ngaku sesuatu yang nggak mau dia akui.

Jadi dia nggak membalas. Dia cuma simpen surat itu di laci.

Di sebelah stempel tua “TOLAK” yang udah nggak dia pake. Di sebelah gunting emas yang selalu dia bawa.

Dan dia bilang ke dirinya sendiri:

“Ini bukan pengkhianatan. Ini kolaborasi.”

Tapi ada yang tahu, bahwa kolaborasi yang dimulai dengan penolakan selama sepuluh tahun, bukanlah kolaborasi.

Itu adalah penyerahan yang dibungkus dengan pita merah.

Bersambung ke Sesi 8: Laporan Ilmiah ‘Spesies Pemimpin’ yang Pandai Mengubah Warna Kebijakan

Penulis: Presmedia
Editor: Redaksi
Sesi sebelumnya:
  1. Sang Pemimpin Bifokal dan Kota yang Lupa Cara Menolak
  2. Era Legislatif, Ketika Berteriak Lebih Gampang daripada Bertindak
  3. Sang Pemimpin Bifokal: Era Legislatif, Ketika Berteriak Lebih Gampang daripada Bertindak
  4. Sang Pemimpin Bifokal: Ketika Gunting Emas Lebih Berat daripada Stempel
  5. Sang Pemimpin Bifokal: Matematika Kosmetik, Seni Menghitung yang Bikin Semua Orang Bahagia
  6. Sang Pemimpin Bifokal: Suara dari Tenda Biru, Monolog Pedagang yang Lupa Cara Marah

Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com