
Syair Nasihat Lama berkata: Barang siapa berteriak dari kursi dewan, lalu lupa bahwa ia tidak memegang kekuasaan, maka suaranya hanyalah angin yang lewat.
Delapan tahun lewat. Si Pemimpin Bifokal nggak lagi di kantor lama.
Dia nggak lagi pegang stempel. Dia duduk di Gedung Dewan, di kursi empuk badan legislatif. Dengan gaji yang nyaman dan kekuasaan yang, jujur aja, lebih banyak berupa suara daripada tindakan.
Dia bukan pemimpin lagi. Dia cuma anggota dewan. Anggota dewan yang berteriak.
Di bawah sana, di jalan utama, pejabat sementara mulai buka pintu. Gerai-gerai kecil dari Warung Modern Biru mulai coba buka.
Dan Si Pemimpin, yang sekarang jadi anggota dewan, ngerasa kayak pahlawan yang kembali.
Dia berdiri di podium. Dia nunjuk ke arah jalan. Dia berteriak:
“Lihat! Warung-warung modern itu bakal membunuh toko-toko kecil kita! Mereka bakal menelan kota kita! Mereka bakal ngehancurin warung-warung kecil kita!”
Rakyat denger. Rakyat ngangguk. Rakyat bersorak: “Hidup Si Pemimpin! Dia masih di sisi kita!”
Si Pemimpin senyum. Dia ngerasa kayak pahlawan.
Tapi ada yang aneh. Ada yang sangat, sangat aneh.
Soalnya Si Pemimpin berteriak, tapi dia nggak bertindak. Dia ngkritik, tapi dia nggak ngahalangin. Dia nolak, tapi dia nggak punya stempel lagi.
Dia cuma suara. Suara yang lantang. Suara yang vokal.
Suara yang, kayak kebanyakan suara di badan legislatif negeri ini, akhirnya cuma jadi bising yang nikmatin telinga rakyat, tanpa ngubah apa-apa.
Delapan tahun dia berteriak. Delapan tahun dia ngkritik.
Dan selama delapan tahun itu, dia belajar sesuatu yang penting banget:
Menolak itu gampang kalau kau nggak punya kekuasaan.
Nerima itu susah kalau kau punya kekuasaan.
Tapi yang paling gampang adalah berteriak nolak kalau kau tahu kau nggak bakal pernah bener-bener harus milih.
Soalnya di bawah sana, di jalan utama, gerai-gerai tetap buka. Pejabat sementara tetap buka pintu.
Dan Si Pemimpin? Dia cuma berteriak dari kursi dewan.
Rakyat percaya. Rakyat masih percaya kalau dia adalah pahlawan.
Tapi ada satu hal yang nggak disadarin rakyat:
Pahlawan yang berteriak dari kursi dewan bukanlah pahlawan. Dia cuma aktor yang nunggu panggungnya sendiri.
Dan panggung itu? Panggung itu akhirnya dateng juga.
Bersambung ke Sesi 4: Era Kini – Ketika Gunting Emas Lebih Berat daripada Stempel












