Kasus HIV di Kepri Terus Meningkat Januari-Juli 2026 Capai 477 Orang Terbanyak di Batam

‎Plt Kadinkes Kepri, Muhammad Bisri saat ditemui di gedung daerah Provinsi Kepulauan Riau(Roland/ Presmedia)
‎Plt Kadinkes Kepri, Muhammad Bisri saat ditemui di gedung daerah Provinsi Kepulauan Riau(Roland/ Presmedia)

PRESMEDIA.ID– Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) mencatat penambahan kasus baru Human Immunodeficiency Virus (HIV) sepanjang Januari hingga Juli 2026.

Dalam periode tersebut, sebanyak 477 orang dengan HIV (ODHIV) tercatat mendapatkan hasil pemeriksaan positif. Kota Batam menjadi daerah dengan temuan kasus terbanyak di Provinsi Kepri.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinkes Kepri Muhammad Bisri mengatakan, jumlah temuan kasus HIV pada periode Januari-Juli 2026 mengalami peningkatan dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Menurutnya, peningkatan tersebut terlihat dari temuan kasus baru yang terjadi setiap bulan sejak awal 2026.

Temuan Kasus HIV di Kepri Meningkat Setiap Bulan

Berdasarkan data Dinkes Kepri, pada Januari 2026 tercatat 64 kasus baru HIV. Jumlah tersebut kemudian mencapai 50 kasus pada Februari dan 53 kasus pada Maret.

Selanjutnya, pada April ditemukan 76 kasus, Mei sebanyak 76 kasus, Juni 77 kasus, dan meningkat menjadi 81 kasus pada Juli 2026.

Dengan demikian, total temuan kasus baru selama Januari hingga Juli 2026 mencapai 477 kasus.

Bisri mengatakan, secara kumulatif, jumlah ODHIV yang telah tercatat di Kepri dari tahun-tahun sebelumnya kini mencapai sekitar 7.000 kasus.

“Paling banyak ditemukan di Kota Batam, sejalan dengan jumlah populasi penduduknya yang paling padat di Kepri,” ujar Bisri, Selasa (1/9/2026).

Batam Jadi Daerah dengan Temuan Kasus Terbanyak

Menurut Bisri, tingginya temuan kasus HIV di Batam tidak terlepas dari jumlah penduduk kota tersebut yang merupakan paling besar di Provinsi Kepri.

Selain faktor jumlah penduduk, Dinkes Kepri juga terus melakukan pelacakan dan pemeriksaan secara aktif untuk menemukan kasus HIV yang sebelumnya belum terdata.

Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan di sejumlah lokasi yang dinilai memiliki risiko penularan lebih tinggi, termasuk tempat hiburan malam (THM) dan kawasan yang menjadi sasaran program penjangkauan kesehatan.

“Semakin aktif kita mencari, otomatis semakin banyak kasus yang ditemukan. Lonjakan angka ini terjadi karena kami gencar turun ke lapangan untuk menjaring pengidap yang belum terdata agar segera mendapatkan penanganan,” jelasnya.

Bisri menegaskan, penemuan kasus secara aktif penting dilakukan agar orang yang terinfeksi HIV dapat segera memperoleh layanan kesehatan dan pengobatan.

Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk mencegah penularan HIV lebih luas di masyarakat.

Dinkes Kepri bersama pemerintah kabupaten dan kota juga telah menyiagakan layanan pengobatan HIV di hampir seluruh puskesmas di wilayah Kepri.

Layanan tersebut menyediakan pengobatan antiretroviral (ARV) secara berkala bagi pasien yang membutuhkan, sesuai dengan penanganan medis.

Namun, Bisri mengakui masih terdapat ODHIV yang enggan atau belum rutin menjalani pengobatan.

Karena itu, Dinkes Kepri terus mendorong masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala dan memastikan pengobatan dijalani secara teratur.

“HIV memang belum dapat disembuhkan secara total, tetapi dengan pengobatan yang teratur, jumlah virus dalam tubuh dapat ditekan sehingga risiko penularannya dapat dikurangi,” pungkasnya.

Penulis:Roland
Editor :Redaktur

Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com

Tinggalkan Balasan