
PRESMEDIA.ID– Di Kabupaten Lingga, laut bukan sekadar hamparan biru yang memisahkan pulau-pulau kecil. Laut adalah batas antara hidup dan mati.
Bagi masyarakat kepulauan, transportasi laut bukan pilihan, melainkan satu-satunya harapan untuk bertahan hidup, terutama saat sakit datang.
Kenyataan pahit ini dirasakan langsung Abdul Latief, tokoh masyarakat sekaligus aktivis sosial yang selama bertahun-tahun mendampingi warga Lingga saat harus dirujuk ke rumah sakit di Batam dan Tanjungpinang.
Transportasi Laut, Nafas Terakhir Warga Kepulauan
Dalam kondisi darurat medis, waktu berjalan sangat kejam, Pasien sering kali sudah lemah, tubuh tak lagi kuat menahan rasa sakit, sementara keluarga hanya bisa berharap ada kapal yang siap berlayar.
Ia mengatakan, kalau bicara rujukan pasien di Lingga, sangat bergantung pada transportasi laut. Dan selama ini, ketergantungan itu diharapkan dari bantuan transportasi MV.Lintas Kepri.
“Kapal ini sangat membantu, dan banyak pasien bisa sampai ke rumah sakit luar lingga tepat waktu karena kapal ini,” tutur Abdul Latief dengan nada lirih pada Aulia jurnalis PRESMEDIA.ID di Lingga.
Bahkan lanjutya, Ditengah keterbatasan pilihan transportasi, Feri cepat MV.Lintas Kepri ini, menjadi harapan dan sandaran terakhir keluarga dan pasien.
MV.Lintas Kepri lanjut Abdul Latief, bukan sekadar kapal penumpang, tetapi mejadi pengangkut harapan bagi keluarga dan pasien yang berjuang melawan waktu dan penyakit di Lingga.
Menembus Ombak, Mengejar Waktu

Abdul Latief mengungkapkan, proses rujukan medis dari wilayah kepulauan Lingga ke RS di Tanjungpinang tidak pernah mudah.
Ombak, Badai dan cuaca buruk sering menjadi kendala tertundanya jadwal kapal berangkat. Dan dalam kondisi pasien kritis, kepastian keberangkatan menjadi segalanya.
“Yang paling penting itu kepastian. Pasien tidak bisa menunggu terlalu lama. Untungknya, Lintas Kepri memberi kepastian perjalanan, itu yang sangat berarti bagi kami yang sering menangani urusan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia mengaku, sudah berkali-kali menggunakan jasa MV.Lintas Kepri untuk mengantar pasien dari Lingga ke Tanjungpinang. Dengan doa yang tidak putusm, keluarga dan penumpang lain memohon agar perjalanan lancar dan pasien tiba dengan tepat waktu.
Selain menyelamatkan pasien, Abdul Latif menyebut, kehadiran MV. Lintas Kepri, juga menjadi denyut kehidupan masyarakat Lingga. Akses pendidikan, aktivitas ekonomi, hingga urusan keluarga, bergantung pada konsistensi operasional kapal ini.
Di mata Abdul Latief, keberadaan kapal ini bukan soal bisnis atau jadwal pelayaran semata, Tetapi kata dia, ini soal hak dasar masyarakat kepulauan di Lingga untuk hidup layak dan mendapatkan layanan kesehatan.
“Bagi kami warga Lingga, kapal ini bukan fasilitas tambahan, Tapi menjadi kebutuhan mendasar. Kami sangat terbantu, dan harapan kami layanan transportasi ini tidak terputus,” tegasnya.
MV Lintas Kepri, Penghubung Harapan di Negeri Kepulauan
Di tengah kerasnya kondisi geografis Kabupaten Lingga, MV.Lintas Kepri kini dipandang sebagai lebih dari alat transportasi.
Ferry yang dikelola BUP Kepri ini, menjadi penghubung harapan yang memastikan warga kepulauan di Lingga tidak terisolasi dari layanan kesehatan dan masa depan yang lebih baik.
Bagi Abdul Latief dan masyarakat Lingga, setiap pelayaran bukan sekadar perjalanan laut, Tetapi, Itu adalah perjuangan sunyi, membawa nyawa, doa, dan harapan menembus ombak demi satu kesempatan untuk bertahan hidup.
Penulis:Aulia
Editor :Redaksi













