
PRESMEDIA.ID– Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Misni, mendorong penguatan sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) dalam menghadapi tantangan inflasi di wilayah kepulauan.
Menurut Misni, kolaborasi lintas sektor menjadi langkah penting untuk merumuskan strategi pengendalian inflasi sekaligus mempercepat digitalisasi ekonomi daerah yang sesuai dengan karakteristik Kepulauan Riau.
Hal itu disampaikan Misni saat membuka Forum High Level Meeting TPID dan TP2DD Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2026 di Aula Bank Indonesia Batam Center, Kamis (7/5/2026).
“Ke depan, TPID Provinsi Kepulauan Riau akan terus memperkuat stabilisasi pasokan, kelancaran distribusi, dan koordinasi antar-instansi melalui implementasi Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). Begitu pula dengan TP2DD, percepatan digitalisasi daerah harus terus digesa guna mendukung efisiensi ekonomi daerah,” ujar Misni.
Kepri Inflasi Karena Karakteristik Wilayah Kepulauan
Misni juga mengatakan, Kepulauan Riau yang memiliki posisi strategis sebagai wilayah perbatasan dan beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), memiliki tantangan dalam menjaga stabilitas harga dan distribusi barang.
Dengan wilayah laut mencapai 96 persen dan hanya 4 persen daratan, Kepri terdiri dari 2.028 pulau serta 22 pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.
“Kondisi geografis maritim ini menghadirkan tantangan besar, khususnya terkait efisiensi logistik, rantai pasok antar pulau yang rentan terhadap anomali cuaca, disparitas harga, hingga keterbatasan produk pertanian lokal,” jelasnya.
Selain faktor geografis, tata niaga pangan dan tekanan harga pada sejumlah komoditas utama juga menjadi penyebab tingginya inflasi di daerah.
Inflasi Kepri April 2026 Capai 3,06 Persen
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan atau year-on-year (yoy) Provinsi Kepri pada April 2026 tercatat sebesar 3,06 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang berada di level 2,42 persen.
Sementara inflasi bulanan atau month-to-month (mtm) mencapai 0,43 persen, juga berada di atas angka nasional sebesar 0,13 persen.
Misni mengatakan, tingginya inflasi di Kepri dipengaruhi oleh mobilitas masyarakat yang tinggi serta tantangan distribusi logistik antarwilayah.
Kelompok pengeluaran yang menjadi penyumbang utama inflasi antara lain sektor transportasi sebesar 2,44 persen serta penyediaan makanan, minuman, dan restoran sebesar 1,80 persen.
Beberapa komoditas utama yang memicu kenaikan inflasi di Kepri pada April 2026 di antaranya tarif angkutan udara dan laut, nasi dengan lauk pauk, telepon seluler, bensin, hingga ikan layang atau benggol.
Namun demikian, sejumlah komoditas lain mengalami penurunan harga atau deflasi sehingga membantu menahan laju inflasi.
“Komoditas seperti cabai merah, cabai rawit, dan emas perhiasan mengalami deflasi sehingga mampu menjadi penyeimbang tekanan harga,” ungkap Misni.
Dari Inflasi ini, Kota Batam menjadi daerah dengan tingkat inflasi tertinggi di Kepri sebesar 3,26 persen, disusul Kota Tanjungpinang sebesar 3,25 persen.
Sementara itu, Kabupaten Karimun mencatat capaian positif dengan deflasi bulanan sebesar minus 0,25 persen.
Di tengah tekanan inflasi, perekonomian Kepulauan Riau justru menunjukkan performa positif. Pada Triwulan I Tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Kepri tercatat mencapai 7,04 persen secara year-on-year.
Capaian tersebut menjadikan Kepri sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Sumatera dan berada di peringkat kelima secara nasional.
“Walaupun kontribusi Kepri terhadap PDRB Sumatera hanya sekitar 7,30 persen, namun akselerasi pertumbuhan ekonomi kita merupakan yang tercepat. Ini patut kita syukuri dan terus kita jaga bersama,” kata Misni.
Misni juga menyoroti tingginya mobilitas wisatawan domestik di Kepulauan Riau. Pada periode Januari hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 1.145.198 perjalanan wisatawan nusantara, tertinggi sejak 2019.
Peningkatan mobilitas tersebut berdampak langsung terhadap kenaikan tarif transportasi udara di Kepri.
Di sisi lain, kinerja ekspor Kepri ke Singapura juga tetap kuat dengan nilai mencapai US$646,84 juta. Komoditas ekspor utama meliputi bahan bakar mineral, mesin listrik, dan mesin mekanik.
Forum High Level Meeting TPID dan TP2DD ini turut dihadiri Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepri Rony Widijarto Purubaskoro, Kepala BPS Provinsi Kepri Toto Hariyanto Silitonga, Pimpinan Cabang Perum Bulog Kepri Batam Guido XL Pereira, Pimpinan Cabang Perum Bulog Tanjungpinang Arief Alhadihaq, serta sejumlah kepala OPD di lingkungan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
Penulis:Presmedia
Editor :Redaksi













