Peserta Fesmed Selat Malaka 2026 Telusuri Jejak Raja Ali Haji di Pulau Penyengat Tanjungpinang

‎Delegasi AJI se-Indonesia Telusuri Jejak Raja Ali Haji di Pulau Penyengat ( AJI Tanjungpinang ) ‎
‎Delegasi AJI se-Indonesia Telusuri Jejak Raja Ali Haji di Pulau Penyengat ( AJI Tanjungpinang )

PRESMEDIA.ID- Setelah dua hari mengikuti rangkaian Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 di Batam, peserta Aaliansi Jurnalis Independen (AJI) melakukan penelusuran jejak sejarah dan intelektual Melayu di Pulau Penyengat kota Tanjungpinang Senin, 21 September 2026.

‎Napak tilas di hari ke tiga Festival Media Selat Malaka ini menjadi bagian dari rangkaian puncak Fesmed Selat Malaka 2026 sebelum para peserta mengikuti sarasehan bersama AJI Indonesia dan AJI Kota dari berbagai daerah di Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

‎Kegiatan napak tilas mengajak delegasi AJI dari berbagai kota di Indonesia mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Pulau Penyengat, mulai dari Masjid Raya Sultan Riau, Gedung Tabib, serta kompleks makam Engku Puteri Raja Hamidah dan Raja Ali Haji.

‎Masjid Raya Sultan Riau menjadi salah satu titik awal perjalanan. Masjid tersebut tidak hanya dikenal sebagai tempat ibadah, tetapi juga memiliki sejarah sebagai salah satu pusat pembelajaran pada masa lalu.

‎Dari kawasan masjid, peserta melanjutkan perjalanan menuju sejumlah situs lainnya sambil mendapatkan penjelasan mengenai sejarah Pulau Penyengat dan tokoh-tokoh yang memiliki kaitan dengan perkembangan intelektual dan kebudayaan Melayu.

‎Salah satu peserta, Sunu Diantoro, Ketua Bidang Pendidikan, Etik, dan Profesi Pengurus Nasional Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, mengaku mendapatkan pengalaman berbeda setelah melihat langsung tempat yang selama ini hanya dikenalnya melalui buku dan pelajaran.

‎Sunu mengatakan, selama ini ia telah mengenal Raja Ali Haji sebagai sastrawan Melayu, termasuk melalui karya Gurindam Dua Belas yang pernah dipelajari di sekolah maupun perguruan tinggi.

‎Namun, kunjungan ke Pulau Penyengat membuatnya dapat melihat langsung lingkungan dan tempat yang berkaitan dengan sejarah tokoh serta karya tersebut.

‎“Hari ini saya membuktikan apa yang selama ini diajarkan oleh para guru di Jawa sana dan juga apa yang saya baca dari banyak buku-buku tentang Raja Ali Haji sebagai seorang sastrawan yang mengarang kitab Gurindam 12 itu,” kata Sunu.

‎Menurutnya, selama ini ia tidak mengetahui secara langsung seperti apa lokasi yang berkaitan dengan sejarah Gurindam Dua Belas.

‎“Selama ini kami tidak pernah tahu seperti apa sih lokasi tempat bikin kitab Gurindam 12 itu. Dan saya hari ini menyaksikan itu,” ujarnya.

‎Sunu juga menilai sejumlah situs yang dikunjungi dalam kondisi cukup terawat. Ia mengaku menikmati kunjungan ke kompleks makam, termasuk makam Engku Puteri Raja Hamidah dan Raja Ali Haji.

‎Ia turut mengapresiasi penjelasan pemandu, Raja Fahrul, yang menurutnya berupaya membedakan informasi berdasarkan referensi dengan hal-hal yang masih membutuhkan konfirmasi.

‎“Kalau ada sesuatu yang sifatnya dia pernah baca, dia akan kutip itu bukunya. Tapi kalau ada sesuatu yang sifatnya dia belum jelas, dia akan katakan bahwa ini perlu dikonfirmasi lagi,” kata Sunu.

‎Bagi Sunu, sikap tersebut menjadi pembelajaran penting dalam melihat informasi secara ilmiah, termasuk bagi kalangan jurnalis.

‎Menurutnya, napak tilas di Pulau Penyengat juga memperlihatkan bagaimana karya sastra masa lalu dapat membawa pesan yang masih relevan hingga sekarang.

‎Ia mencontohkan Gurindam Dua Belas yang memuat pesan mengenai hubungan manusia dengan Tuhan dan hubungan antar manusia.

‎“Lewat sebuah karya sastra yang cukup kuat, dan saya kira karya sastra ini cukup abadi,” ujarnya.

‎Sunu juga melihat adanya peluang agar warisan tersebut suatu saat dapat didorong menjadi bagian dari warisan dunia yang didaftarkan ke UNESCO.

‎Menurutnya, Pulau Penyengat memiliki artefak dan peninggalan yang masih rerawat, sekaligus menyimpan pengetahuan dan hikmah yang masih dapat dipelajari hingga saat ini.

‎Ia menilai pesan mengenai kebijaksanaan dan keadilan menjadi nilai yang tetap relevan.

‎Ketika ditanya mengenai pengalamannya mengikuti napak tilas tersebut, Sunu menyebut kunjungan ke Pulau Penyengat sangat layak.

‎“Sangat worth it. Sangat worth it. Ini kunjungan sangat worth it,” katanya.

‎Delegasi Diperkenalkan Tradisi Makan Berhidang

‎Setelah mengikuti napak tilas, delegasi AJI se-Indonesia kemudian diperkenalkan dengan tradisi makan berhidang sebagai bagian dari santap siang sebelum mengikuti sarasehan.

‎Ketua LAM Kepri, Raja Al Hafiz, menjelaskan makan berhidang merupakan salah satu tata cara makan dalam adat Melayu. Dalam tradisi tersebut, satu hidangan disantap bersama oleh empat orang.

‎“Ini adalah satu adat istiadat, tata cara orang Melayu makannya. Makannya adalah makan berhidang, satu hidangan untuk empat orang,” kata Raja Al Hafiz saat menjelaskan tradisi tersebut kepada para delegasi.

‎Menurutnya, tradisi makan berhidang tidak hanya dilakukan dalam keseharian, tetapi juga dapat ditemui dalam berbagai kegiatan keluarga maupun acara resmi, termasuk kegiatan besar dan pernikahan.

‎Pembagian satu hidangan untuk empat orang juga memiliki tata cara tersendiri. Menurut Raja Al Hafiz, lauk dalam hidangan disusun dengan pembagian yang memungkinkan setiap orang mendapatkan bagian masing-masing.

‎Dalam santap siang tersebut, para delegasi juga diperkenalkan dengan sejumlah hidangan Melayu, di antaranya nasi minyak, korma, darca, pacri, gulai dan acar berempah.

‎Raja Al Hafiz menjelaskan, nasi minyak merupakan salah satu hidangan yang dikenal dalam tradisi masyarakat Melayu di Kepulauan Riau. Para delegasi kemudian diajak menikmati hidangan tersebut secara bersama-sama sesuai tradisi makan berhidang.

‎Setelah rangkaian napak tilas dan makan berhidang, kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan sebagai salah satu agenda utama sekaligus puncak Fesmed Selat Malaka 2026.

‎Rangkaian Fesmed Selat Malaka 2026 di Tanjungpinang turut didukung AJI Tanjungpinang, AJI Batam, Bintan Resort Cakrawala (BRC), Abu Dafi, Rimpang, serta Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Provinsi Kepri.

Penulis:Roland
Editor :Redaktur

Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com

Tinggalkan Balasan