
PRESMEDIA.ID– Kegiatan Fesmed Selat Malaka AJI Tanjungpinang dan Batam 2026 di Pulau Penyengat diharapkan tidak sekadar menjadi kunjungan untuk melihat peninggalan sejarah.
Para peserta didorong untuk mengamati, menggali cerita, dan mengolah pengalaman selama berada di pulau bersejarah tersebut menjadi perspektif serta karya jurnalistik.
Ketua AJI Tanjungpinang, Sutana, mengatakan kunjungan peserta Fesmed Selat Malaka 2026 ke sejumlah situs dan warisan budaya di Pulau Penyengat diharapkan dapat melahirkan berbagai perspektif baru.
“Dengan kunjungan peserta Fesmed Selat Malaka 2026 pada sejumlah situs dan warisan sejarah budaya di Pulau Penyengat, diharapkan dapat melahirkan berbagai perspektif dan karya jurnalistik yang memperkenalkan sejarah serta kekayaan budaya Pulau Penyengat kepada masyarakat lebih luas,” kata Sutana.
Menurutnya, pendekatan jurnalistik dalam kegiatan napak tilas tersebut diharapkan membuat kegiatan tidak berhenti sebagai agenda seremonial.
Cerita perjalanan, tulisan, foto, hingga berbagai karya jurnalistik lainnya diharapkan dapat menjadi cara untuk memperkenalkan Pulau Penyengat kepada masyarakat luas.
Menghubungkan Sejarah Pulau Penyengat dengan Masa Depan Pers
Penyelenggaraan Fesmed Selat Malaka 2026 di Pulau Penyengat menjadi salah satu cara AJI mempertemukan sejarah dengan tantangan pers pada masa kini.
Pulau Penyengat memiliki jejak tradisi intelektual Melayu yang panjang. Dari pulau ini, tumbuh berbagai pemikiran, karya sastra, tradisi menulis, dan penyebaran pengetahuan yang menjadi bagian penting dalam perjalanan kebudayaan Melayu.
Jejak tersebut menjadi pintu masuk bagi para jurnalis untuk melihat kembali hubungan antara tradisi intelektual, kebebasan berpikir, penyebaran pengetahuan, dan perkembangan pers.
Di tengah dunia jurnalistik yang terus berubah, sejarah Pulau Penyengat diharapkan dapat menjadi bahan refleksi bagi para jurnalis untuk tetap menjaga nilai-nilai kebebasan pers dan memperkuat peran media di tengah masyarakat.
Dengan demikian, Pulau Penyengat tidak hanya dilihat sebagai bagian dari masa lalu. Bagi AJI, pulau ini juga menjadi ruang untuk melihat kembali akar sejarah sekaligus membicarakan masa depan pers Indonesia.
Kenali 7 Titik Cagar Budaya di Pulau Penyengat
Dalam kegiatan napak tilas Fesmed Selat Malaka 2026, para peserta akan mengunjungi sejumlah situs bersejarah di Pulau Penyengat.
Sebelum melihat langsung peninggalan sejarah Kesultanan Melayu Riau-Lingga tersebut, ada satu hal menarik yang melekat pada identitas Pulau Penyengat.
Pulau kecil di Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), ini dikenal dengan julukan “Pulau Mas Kawin”.
Julukan tersebut berkaitan dengan sejarah Pulau Penyengat yang disebut sebagai mahar pernikahan Sultan Mahmud Syah III kepada permaisurinya, Engku Puteri Raja Hamidah, pada 1803.
Selain kisah tersebut, Pulau Penyengat menyimpan banyak peninggalan sejarah yang masih dapat ditemui hingga kini.
Berikut tujuh situs dan titik cagar budaya yang menjadi bagian penting dari sejarah Pulau Penyengat:
- Masjid Raya Sultan Riau
Masjid Raya Sultan Riau merupakan salah satu ikon paling dikenal di Pulau Penyengat.
Masjid ini memiliki arsitektur khas dan menjadi salah satu peninggalan penting dari Kesultanan Melayu Riau-Lingga. Keberadaannya hingga kini menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas sejarah dan budaya Pulau Penyengat.
- Kompleks Makam Raja Haji Fisabilillah
Kompleks Makam Raja Haji Fisabilillah merupakan salah satu situs bersejarah di Pulau Penyengat.
Tempat ini menjadi peristirahatan terakhir Raja Haji Fisabilillah, tokoh pejuang Melayu yang memiliki peran penting dalam sejarah kawasan Riau-Lingga.
- Kompleks Makam Raja Ali Haji dan Engku Puteri Raja Hamidah
Kompleks makam ini menjadi salah satu lokasi penting dalam napak tilas sejarah Pulau Penyengat.
Di tempat ini terdapat makam Raja Ali Haji, pujangga Melayu yang dikenal melalui karya Gurindam Dua Belas, serta makam Engku Puteri Raja Hamidah, salah satu tokoh penting dalam sejarah Kesultanan Melayu Riau-Lingga.
- Kompleks Makam Raja Abdurrahman
Kompleks Makam Raja Abdurrahman merupakan peninggalan sejarah yang berkaitan dengan pemerintahan Kesultanan Melayu Riau-Lingga.
Raja Abdurrahman dikenal sebagai Yang Dipertuan Muda VII, salah satu tokoh penting dalam sejarah pemerintahan Riau-Lingga pada abad ke-19.
- Kompleks Istana Kantor
Kompleks Istana Kantor menjadi salah satu bangunan bersejarah yang masih dapat ditemui di Pulau Penyengat.
Bangunan ini dahulu berkaitan dengan pusat pemerintahan sekaligus kediaman resmi para Yang Dipertuan Muda.
Keberadaan Istana Kantor memberikan gambaran mengenai kehidupan pemerintahan dan aktivitas kerajaan pada masa Kesultanan Melayu Riau-Lingga.
- Perigi Sulu dan Perigi Tua
Perigi Sulu dan Perigi Tua merupakan sumur bersejarah yang menjadi bagian dari peninggalan masa lalu Pulau Penyengat.
Pada masanya, keberadaan sumber air tersebut memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat di pulau tersebut.
Kini, kedua perigi tersebut menjadi bagian dari jejak sejarah yang dapat dikenali peserta maupun wisatawan ketika menyusuri Pulau Penyengat.
- Istana Tengku Bilik
Istana Tengku Bilik merupakan salah satu bangunan bersejarah yang berkaitan dengan keluarga kerajaan.
Bangunan ini menjadi bagian dari warisan budaya Pulau Penyengat dan memperlihatkan jejak kehidupan keluarga kerajaan Melayu pada masa lalu.
Pulau Penyengat, Antara Sejarah dan Masa Depan Pers Indonesia
Melalui Fesmed Selat Malaka 2026, AJI tidak hanya membawa ratusan jurnalis untuk melihat berbagai peninggalan sejarah.
Lebih jauh, Pulau Penyengat diposisikan sebagai ruang untuk mempertemukan sejarah, kebudayaan, tradisi intelektual, dan masa depan pers Indonesia.
Jejak Rusydiah Klub dan warisan pemikiran Raja Ali Haji menjadi bagian dari perjalanan panjang tradisi membaca, menulis, berdiskusi, dan menyebarkan pengetahuan di kawasan Melayu.
Bagi para jurnalis yang mengikuti napak tilas, pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi bahan untuk menghasilkan karya jurnalistik yang tidak hanya menceritakan sebuah tempat, tetapi juga menghidupkan kembali sejarah di baliknya.
Dengan begitu, perjalanan ke Pulau Penyengat tidak berhenti pada kunjungan. Ia menjadi kesempatan bagi para jurnalis untuk menggali cerita, memahami akar sejarah, dan membawa warisan intelektual Melayu tersebut kepada pembaca melalui karya jurnalistik di tengah perubahan zaman.
Penuli:Presmedia
Editor:Redaksi
Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com












