
PRESMEDIA.ID, Bintan – Waspada terhadap wabah undefined pneumonia yang merebak sejak November 2023 di Tiongkok dan Eropa. Kabupaten Bintan melakukan waspada dengan melakukan sejumlah langkah dan termasuk mempersiapkan ruang isolasi bagi pasien di RSUD Bintan.
Plt.Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Bintan, dr.Bambang Utoyo, mengatakan, kewaspadaan ini dilakukan sesuai dengan surat edaran dari Dinkes Kepri pada 1 Desember 2023, dengan nomor :443.42/2409/Dinkes/B/2023 tentang Kewaspadaan Terhadap Kejadian Mycoplasma Pneumonia.
Surat Dinkes Kepri ini lanjutnya, menindaklanjuti Surat Edaran (SE) Nomor PM.03.01/C/4732/2023 dari Direktorat Jenderal (Dirjen) Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI pada 27 November 2023.
“Dalam surat ini, Dinkes Kabupaten/Kota di Kepri diminta untuk melakukan antisipasi dan penanganan tentang wabah Pneumonia,” ujar Bambang yang juga menjabat sebagai Direktur RSUD Bintan ini, Senin (4/12/2023).
Dinas Kesehatan Kabupaten/kota di Kepri, juga diminta meningkatkan kewaspadaan dini dengan memantau tren kasus ILI/SAR/Pneumonia melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) di link https//skdr.surveilans.org dan melaporkan secara rutin ISPA/Pneumonia pada link bit.ly/ILISARI.
Kemudian, menindaklanjuti laporan penemuan kasus yang dicurigai Mycoplasma Pneumonia dari fasilitas pelayanan kesehatan (Fasyankes) dan memfasilitasi pengiriman spesimen ke laboratorium rujukan Sentinel ILI/SARI.
Selain itu, menyediakan media transport Spesimen Mycoplasma Pneumonia jika di wilayah terdapat rumah sakit Sentinel ILI/SARI. Lalu menyebarkan informasi terkait kewaspadaan terhadap Mycoplasma Pneumonia kepada masyarakat dan fasyankes di wilayahnya.
“Saat ini kami akan segera melakukan himbauan serta edukasi kewaspadaan terhadap Mycoplasma Pneumonia kepada rumah sakit, puskesmas dan masyarakat. Lalu kami juga koordinasi dengan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Tanjungpinang,” jelasnya.
Selain mengantisipasi dengan himbauan ke fasyankes lanjutnya, Dinas Kesehatan Bintan kata Bambang, juga sudah mempersiapkan ruang isolasi apabila mendapati masyarakat maupun wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara di Bintan yang tertular wabah Pneumonia.
“Insyaallah RSUD Bintan siap untuk menangani pasien kasus Pneumonia. Baik itu masyarakat maupun turis,” katanya.
Disinggung dengan kapasitas ruang isolasi yang disiapkan. dr.Bambang mengatakan bahwa ruang isolasi tersebut merupakan ruang isolasi bekas kaskus covid-19. Ruangan itu memiliki daya tampung 6 orang dan alat yang lengkap
“Kapasitasnya yang bertekanan negatif ada 4 bed dan di UGD untuk tekanan negatif 2 bed. Jadi ada enam bed atau dapat digunakan 6 orang,” ucapnya.
Hal ini kata Bambang Utoyo, perlu dilakukan mengingat, Bintan merupakan salah pintu masuk wisatawan mancanegara (wisman) dari berbagai negara termasuk Warga Negara (WN) Cina.
Meskipun demikian, Bambang mengakui, bahwa hingga saat ini, belum ada larangan khusus bagi kunjungan wisman asal negara tirai bambu itu ke Bintan. Namun demikian, Pemerintah kabupaten Bintan tetap melakukan antisipasi.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan RI melalui rilis Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik, Kementerian Kesehatan RI, mengimbau masyarakat agar tidak panik menyusul penyebaran undefined pneumonia.
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, dr. Imran Pambudi mengatakan masyarakat sebaiknya justru meningkatkan kewaspadaan diri terlebih bila melakukan perjalanan ke luar negeri.
Tiongkok saat ini mengalami ancaman serius penyebaran undefined pneumonia yang mulai merebak sejak November 2023. Selain Tiongkok, penyakit radang paru-paru ini juga dilaporkan terjadi di Eropa. Penularan penyakit ini didominasi pada anak-anak.
Menurut dr. Imran, pneumonia yang saat ini merebak di Tiongkok pada prinsipnya sama dengan pneumonia yang terjadi di masyarakat, yakni disebabkan oleh infeksi bakteri.
Hanya saja, berdasarkan laporan epidemiologi, kebanyakan kasus pneumonia di sana disebabkan oleh mycoplasma pneumoniae.
Mycoplasma merupakan bakteri penyebab umum infeksi pernapasan (respiratory) sebelum COVID-19.
Bakteri ini diketahui memiliki masa inkubasi yang panjang. Karena itu, penyebarannya tidak secepat virus penyebab pandemi COVID-19, sehingga tingkat fertilitasnya rendah.
Kendati demikian, Kementerian Kesehatan sudah melakukan berbagai upaya mitigasi untuk mengantisipasi merebaknya mycoplasma pneumonia di Indonesia.
Salah satunya, menerbitkan Surat Edaran Nomor : PM.03.01/C/4732/2023 tentang Kewaspadaan Terhadap Kejadian Mycoplasma Pneumonia di Indonesia.
Surat Edaran yang ditandatangani Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Maxi Rein Rondonuwu pada 27 November 2023 memuat sejumlah langkah antisipasi yang harus dilakukan oleh seluruh jajaran kesehatan dalam menghadapi penyebaran mycoplasma pneumonia di Indonesia.
Melalui surat edaran tersebut, Kemenkes juga telah mendorong fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) dan pintu masuk negara untuk aktif pelaporan temuan kasus pneumonia melalui saluran yang disediakan, yakni Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon Event Based Surveillance (SKDREBS)/Surveilans Berbasis Kejadian (SBK) maupun ke PHEOC.
“Kami mengimbau kepada Dinas Kesehatan, rumah sakit maupun pintu masuk negara agar segera melaporkan apabila ada indikasi kasus yang mengarah pada pneumonia,†terangnya.
Upaya mitigasi, lanjut dr. Imran tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri, melainkan harus dibarengi dengan komitmen seluruh masyarakat agar pengendalian pneumonia lebih optimal.
Berikut adalah beberapa upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengantisipasi penularan pneumonia di Indonesia:
Pertama, melakukan vaksin untuk melawan influenza, COVID-19, dan patogen pernapasan lainnya jika diperlukan.
Kedua, tidak melakukan kontak atau menerapkan jaga jarak aman dengan orang yang sakit.
Ketiga, memastikan memiliki ventilasi yang baik. Keempat, membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti mencuci tangan memakai sabun antiseptik dan air mengalir.
Kelima, apabila merasa kurang enak badan atau sakit, sebaiknya tidak keluar rumah dan tetap menggunakan masker dengan baik serta benar.
“Segera ke fasyankes terdekat jika ada tanda gejala, batuk dan/atau kesukaran bernapas disertai dengan demam,†kata dr. Imran.
Penulis: Hasura
Editor : Redaksi












