
PRESMEDIA.ID – Proses lelang proyek Pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional Pulau Penyengat Kota Tanjungpinang senilai Rp101 Miliar diwarnai anomali sistem. Tak hanya itu, terjadi aksi saling lempar tanggung jawab di internal Biro Pengadaan Barang dan Jasa (PBJ) Setda Kepri.
Berdasarkan data autentik SPSE LPSE Provinsi Kepulauan Riau, proyek di bawah Dinas PUPRP Kepri ini dimenangkan oleh PT Himindo Citra Mandiri. Nilai Harga Perkiraan Sendiri (HPS) proyek tersebut tercatat sebesar Rp100.999.895.745,49.
Namun, penelusuran Redaksi presmedia.id menemukan kejanggalan pada lembar evaluasi dan pengumuman pemenang. Harga Penawaran awal PT Himindo Citra Mandiri sebesar Rp99.999.999.000,00, anehnya berubah naik menjadi Rp99.999.999.000,01 pada kolom Hasil Negosiasi.
Kenaikan nominal Rp0,01 tersebut dinilai menabrak aturan pengadaan barang dan jasa pemerintah. Sesuai Lampiran II Peraturan LKPP Nomor 12 Tahun 2021, negosiasi harga pada tender peserta tunggal wajib menghasilkan angka yang sama atau lebih rendah dari penawaran awal.
Pokja Dalihkan Bug Sistem SPSE
Saat dikonfirmasi Redaksi presmedia.id, salah satu anggota Pokja Pemilihan menyampaikan pembelaan tertulis. Ia mengklaim kenaikan harga sebesar Rp0,01 tersebut bukan merupakan input manual dari Pokja.
“Maaf pak, saya enggak punya kapasitas untuk menjawab pertanyaan bapak. Tapi sedikit saya sampaikan untuk pertanyaan no. 1 mengenai kenaikan angka Rp 0’01 di negosiasi itu diluar kemampuan kami untuk menjawabnya karena sistem yang mengaturnya kami juga enggak tau kenapa bisa naik 0,01 rupiah, kenaikan tersebut tidak dibuat secara manual tetapi sistem secara automatis menambah angka tersebut,” ujar sumber anggota Pokja tersebut.
Namun saat ditanya mengenai efisiensi anggaran serta mundurnya 30 perusahaan lain, anggota Pokja ini enggan menjawab. Ia mengaku tidak memiliki kapasitas keputusan dan mengarahkan media ke pimpinan biro.
“Boleh tanyakan ke Pak Azwandi (Kepala Biro PBJ). Saya tidak berani menjawab yang bukan kewenangan saya,” tambahnya.
Pejabat Pilih Bungkam Saat Diminta Kontak Pokja
Aksi pingpong komunikasi ini kian kentara saat Redaksi berupaya meminta klarifikasi kepada Kepala Biro PBJ Setda Kepri, Azwandi. Pada konfirmasi beberapa waktu lalu, Azwandi sempat membalas singkat dan mengarahkan media ke Pokja karena kondisi kesehatannya.
“Saya lagi sakit mas… Silakan hubungi langsung Pokja ya,” tulis Azwandi saat itu.
Namun, saat Redaksi kembali menghubungi Azwandi untuk meminta kontak resmi anggota/pimpinan Pokja, Azwandi pilih bungkam. Pesan konfirmasi hanya dibaca (centang biru) tanpa memberikan jawaban hingga berita ini ditayangkan.
Sikap tertutup ini memperjelas lemahnya transparansi publik di lingkup Biro PBJ Kepri. Hal ini menjadi sorotan dalam pengawalan proyek infrastruktur beranggaran besar.
Efisiensi Semu dan Gugur Massal
Lelang proyek Monumen Bahasa Pulau Penyengat ini juga mencatatkan efisiensi anggaran yang sangat minim. Nilai negosiasi final hanya menghemat anggaran daerah sekitar Rp999,8 juta atau di bawah 1% dari HPS.
Data SPSE mencatat ada 31 perusahaan terdaftar, termasuk sejumlah BUMN konstruksi besar. Namun, hanya PT Himindo Citra Mandiri satu-satunya kontraktor yang memasukkan dokumen penawaran hingga ditetapkan sebagai pemenang tunggal.
Penulis :Presmedia
Editor :Redaksi












