APTIK Serukan Perawatan Demokrasi dan Penegakan Keadilan dalam Menjaga Harapan Indonesia

APTIK menyampaikan pernyataan moral tentang pentingnya merawat demokrasi, menegakkan keadilan, dan memelihara harapan Indonesia. Perguruan tinggi diminta menjadi penjaga nurani bangsa di tengah berbagai tantangan. (Foto Dok-APTIK)

APTIK menyampaikan pernyataan moral tentang pentingnya merawat demokrasi, menegakkan keadilan, dan memelihara harapan Indonesia. Perguruan tinggi diminta menjadi penjaga nurani bangsa di tengah berbagai tantangan. (Foto Dok-APTIK)

PRESMEDIA.ID – Asosiasi Perguruan Tinggi Katolik (APTIK) mengeluarkan pernyataan moral yang mengajak seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama merawat demokrasi, menegakkan keadilan, dan memelihara harapan bagi masa depan Indonesia.

APTIK menegaskan, Indonesia memiliki fondasi kebangsaan yang kokoh melalui Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Di atas landasan tersebut, bangsa Indonesia membangun kehidupan bersama yang menjunjung tinggi martabat manusia, keadilan sosial, persatuan, demokrasi, serta penghormatan terhadap keberagaman.

Namun di tengah berbagai kemajuan yang telah dicapai, Indonesia juga menghadapi tantangan baru akibat ketidakpastian ekonomi global, perubahan geopolitik, perkembangan teknologi digital, hingga dinamika politik dan sosial yang semakin kompleks.

Kondisi ini dinilai, memerlukan kejernihan berpikir, kedewasaan dalam berdemokrasi, serta keberanian moral dari seluruh elemen bangsa.

Perguruan Tinggi Berperan Menjaga Nurani Bangsa

Ketua APTIK, Johanes Eka Priyatma, mengatakan perguruan tinggi tidak hanya memiliki tanggung jawab mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghadirkan refleksi moral bagi kehidupan berbangsa.

Menurutnya, pendidikan tinggi harus mampu membentuk manusia yang utuh, mengembangkan budaya dialog, memperjuangkan kebenaran, dan memelihara harapan akan Indonesia yang semakin demokratis, adil, dan bermartabat.

“Dalam semangat tersebut, kami menyampaikan beberapa refleksi moral atas kehidupan berbangsa akhir-akhir ini,” ujar Johanes Eka Priyatma dalam pernyataan tertulis yang diterima Presmedia.

Tujuh Pernyataan Moral APTIK untuk Demokrasi Indonesia

1.Menjaga Ruang Kebebasan Sipil
APTIK menilai kebebasan berpendapat, kebebasan akademik, kebebasan pers, kebebasan berserikat, dan kebebasan berekspresi merupakan pilar utama demokrasi.

Perbedaan pandangan maupun kritik yang disampaikan secara bertanggung jawab harus dipandang sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam membangun bangsa.

“Demokrasi bertumbuh ketika setiap orang merasa aman menyampaikan gagasan, kritik, dan aspirasi secara terbuka serta bermartabat,” tegas Johanes.

2.Negara Harus Berpihak pada Kepentingan Rakyat
APTIK menekankan bahwa penyelenggaraan negara harus selalu berorientasi pada kepentingan umum.

Hubungan antara kekuasaan politik, kekuatan ekonomi, dan berbagai kepentingan sosial harus dikelola secara transparan, akuntabel, dan berkeadilan agar kebijakan publik benar-benar berpihak kepada masyarakat, terutama kelompok rentan.

Selain itu, pengisian jabatan publik harus didasarkan pada kompetensi, integritas, meritokrasi, dan rekam jejak yang baik.

3.Memperkuat Institusi Demokrasi
APTIK menilai demokrasi membutuhkan lembaga negara yang kuat, berintegritas, serta mampu menjalankan fungsi pengawasan sesuai amanat konstitusi.

Independensi aparat penegak hukum, kebebasan pers, masyarakat sipil, dan dunia akademik menjadi fondasi penting dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang sehat dan akuntabel.

4.Menjaga Supremasi Sipil
APTIK juga mengingatkan pentingnya penghormatan terhadap supremasi sipil dalam sistem demokrasi.

Keterlibatan institusi keamanan harus tetap berada dalam koridor konstitusi, profesionalisme, dan akuntabilitas publik.

Batas yang jelas antara kewenangan sipil dan militer dinilai menjadi syarat penting bagi demokrasi yang sehat dan negara hukum.

5.Menghadapi Tantangan Era Digital
Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan artifisial (AI) dinilai membawa peluang besar sekaligus tantangan baru.

APTIK mengingatkan agar penyebaran disinformasi, manipulasi opini publik, eksploitasi data pribadi, hingga polarisasi sosial dapat diantisipasi sehingga teknologi benar-benar digunakan untuk menghormati martabat manusia dan melayani kebenaran.

6.Kepemimpinan Berintegritas
APTIK menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas, kejujuran, kerendahan hati, keberanian mendengar, serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Kepemimpinan seperti inilah yang diyakini mampu memperkuat persatuan dan memulihkan kepercayaan publik.

7.Pembangunan Ekonomi Harus Berkeadilan
Menurut APTIK, pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan keadilan sosial.

Di tengah meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian lapangan pekerjaan, dan kesenjangan sosial, pembangunan harus memberikan perlindungan kepada kelompok rentan serta membuka peluang yang lebih luas bagi generasi muda.

Perguruan Tinggi Penjaga Nurani Bangsa

APTIK menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.

Selain mencetak lulusan yang kompeten, kampus juga menjadi ruang pembentukan karakter, pengembangan kebijaksanaan, dan pencarian kebenaran.

Kebebasan akademik dinilai sebagai prasyarat utama bagi berkembangnya ilmu pengetahuan sekaligus fondasi demokrasi yang sehat.

Karena itu, perguruan tinggi diharapkan terus membangun budaya berpikir kritis, memperkuat dialog, meningkatkan literasi digital, serta membentuk generasi muda yang berintegritas dan memiliki kepedulian sosial.

APTIK juga menegaskan bahwa dunia akademik harus tetap independen dan bebas dari segala bentuk tekanan yang dapat melemahkan integritas ilmiah.

APTIK Ajak Elemen Bangsa Perkuat Demokrasi

Melalui pernyataan moral tersebut, APTIK mengajak seluruh penyelenggara negara untuk memperkuat tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, berbasis meritokrasi, serta membuka ruang dialog dengan masyarakat.

APTIK juga mengajak lembaga negara dan aparat penegak hukum menjaga integritas, profesionalisme, dan independensi agar kepercayaan publik terhadap hukum terus meningkat.

Selain itu, masyarakat sipil, media, organisasi kemasyarakatan, komunitas keagamaan, hingga dunia usaha diajak mengembangkan budaya dialog, menghormati keberagaman, serta menolak kekerasan, ujaran kebencian, dan penyebaran informasi yang menyesatkan.

Perguruan tinggi di seluruh Indonesia pun didorong untuk memperkuat pendidikan demokrasi, etika publik, literasi digital, serta pembentukan karakter generasi muda.

Harapan untuk Masa Depan Indonesia

APTIK secara khusus mengajak generasi muda agar tidak kehilangan harapan terhadap masa depan Indonesia.

Menurut organisasi tersebut, masa depan bangsa bergantung pada keberanian anak muda dalam menjaga integritas, mengembangkan ilmu pengetahuan, merawat persaudaraan, dan berpartisipasi aktif dalam kehidupan demokrasi.

APTIK menegaskan bahwa harapan bukan berarti menutup mata terhadap berbagai persoalan, melainkan keyakinan bahwa masa depan Indonesia dapat dibangun melalui kejujuran, keadilan, solidaritas, dan kerja sama.

“Indonesia tidak membutuhkan semakin banyak ketakutan, melainkan semakin banyak kepercayaan. Indonesia tidak membutuhkan semakin banyak polarisasi, melainkan semakin banyak dialog,” demikian isi pernyataan APTIK.

Menutup pernyataannya, APTIK menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pendidikan yang membebaskan, mengembangkan ilmu pengetahuan yang berpihak pada martabat manusia, serta memperkuat keadilan, persaudaraan, dan kebaikan bersama.

“Kami percaya Indonesia akan tetap menjadi rumah bersama yang kokoh apabila seluruh elemen bangsa terus menjaga demokrasi dengan kebijaksanaan, menegakkan keadilan dengan keberanian, dan memelihara harapan dengan semangat persaudaraan,” pungkas Johanes Eka Priyatma.

Penulis:Presmedia
Editor :Redaksi

Sanggahan, koreksi, atau Hak Jawab sesuai UU Pers No. 40/1999 melalui email Redaksi presmedia.id: redaksi.presmed@gmail.com